Kamis, 10 Januari 2013

Sejarah Gunung Cupu



ASAL-USUL NAMA GUNUNG CUPU
A. Percikan Kerajaan Galuh
Sebelum berdiri Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran, berdiri Kerajaan Galuh yang membawahi kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar di beberapa daerah Sunda (Jawa Barat sekarang) dan di wilayah Jawa (Jawa Tengah sekarang) yang kebanyakan kerajaan-kerajaan kecil tersebut dipimpin oleh seorang Ratu atau seorang Prabu yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Raja Galuh sehingga kebudayaan dan bahasanyapun di tiap kerajaan kecil hampir serupa antara Jawa dan Sunda begitu pula Agama yang dianutnya sama yaitu Hindu dan Budha.
Adapun tempat pusat Kerajaan Galuh pada waktu itu berpindah-pindah dan pada sekitar abad ke 7 (tujuh) bertahtalah seorang Raja keturunan ke 31 dari Kerajaan Galuh bernama Prabu Sanghyang Permanadikusumah yang pusat pemerintahan kerajaan dipindahkan dan ditetapkan di Bojong Karangkamulyan (sebelumnya di Banjar Patroman).
Sri Maharaja Adimulya mempunyai 3 Permaisuri, yaitu:
  1. Dewi Naganingrum atau Nyai Ujung Sekar Jingga
  2. Dewi Pangrenyep atau Ratu Dewi Komalasari
  3. Dewi Permana Sakti ( yang kelak mempunyai putra menjadi Maharaja di Nusakambangan )
Selain ketiga permaisuri, Sri Maharaja Adimulya mempunyai 5 selir putra Onom (mahluk halus) yang ditempatkan di Pulo Majeti (dekat Banjar sekarang).
Sri Maharaja Adimulya terkenal selaku Raja yang adil dan bijaksana dan didalam melaksanakan pemerintahannya dibantu oleh seorang Patih yang bernama Bondan.
Disuatu hari Sri Maharaja Adimulya mendapat firasat (wangsit sd) dan memang mungkin sudah takdirnya bahwa dalam umur yang sudah cukup tua beliau harus pergi mensucikan diri sebagai Pandita Pertapa. Atas hal itu beliau berangkat pergi dengan diantar oleh balatentara pasukan pengawal yang dipimpin oleh seorang panglima bernama Giridawang.  Beliau berangkat ke hutan dengan membawa serta dokumen dan jimat pusaka kerajaan yang selanjutnya menetap tinggal di satu hutan yaitu Gunung Padang (sekarang masuk wilayah Desa Sukaresik/batas Timur Desa Gunungcupu).  Selama beliau berada di pertapaan sementara itu pula pengelolaan roda pemerintahan kerajaan diserahkan dan dipercayakan kepada patihnya Adipati Bondan yang selanjutnya diberi gelar Prabu Bondan Sarati.
Selama tinggal di Gunung Padang, Sri Maharaja Adimulya menyebarkan ajaran agama kepada rakyat sekitar yang dalam tempo singkat pengikut melimpah banyak yang selanjutnya beliau terkenal dengan sebutan Ki Ajar Sukaresi.
Sementara itu pula Panglima Giridawang sibuk pula mengajarkan ilmu bela diri, ketentaraan dan peperangan.
Dalam pemerintahan kerajaan Galuh yang pimpinannya dipercayakan kepada Prabu Bondan Sarati malah menjadi mundur dan kacau, dimana-mana timbul keributan serta kehidupan rakyat tidak terjamin karena Prabu Bondan Sarati dalam memimpin kerajaan bertindak semena-mena dengan tidak perduli terhadap kehidupan dan kepentingan rakyat.
Makin hari nama Pandhita Ki Ajar Sukaresi jadi semakin terkenal sampai ketiap peloksok sebagai Pendeta yang sakti dan bijaksana.  Hal tersebut menggelitik keangkuhan dan kesombongan hati Prabu Bondan Sarati yang nyata-nyata beranggapan bahwa di Kerajaan Galuh tidak ada yang paling sakti dan gagah berani selain dirinya sendiri selaku pemegang tampuk pemerintahan.   Karena kepicikan dan kelicikan hatinya dia mengirimkan pasukan tentaranya untuk menyerang ke Gunung Padang guna menghancurkan Pertapaan serta membunuh Ki Ajar Sukaresi.
Mendengar rencana penyerangan dari Prabu Bondan Sarati, Ki Ajar Sukaresi segera mengamankan / menyembunyikan semua dokumen rahasiah kerajaan berikut segala ajimat dan pusaka kerajaan Galuh dengan memasukannya kedalam sebuah cupu (semacam peti) dan peti tersebut langsung dikubur di satu hutan yang tempatnya dirahasiahkan dengan maksud supaya tidak bisa terampas oleh pasukan Prabu Bondan Sarati.  Pada waktu itu putra mahkota Ki Ajar Sukaresi dari Dewi Naganingrum bernama Ciung Wanara telah dewasa langsung menyiapkan balatentara dengan dibantu oleh panglima Giridawang untuk menghadang serangan pasukan Prabu Bondan Sarati serta langsung mengadakan serangan balik disamping untuk merebut kekuasaan kerajaan guna mengembalikan kewibawaan dan kejayaan kerajaan Galuh yang sudah rusak oleh Prabu Bondan Sarati.
Pasukan Ciung Wanara dengan mendapat dukungan besar dari rakyat akhirnya dapat memenangkan peperangan dan langsung menangkap Prabu Bondan Sarati.
Akhirnya kekuasaan Kerajaan Galuh kembali dipegang oleh Sri Maharaja Adimulya yang telah memiliki gelar pula sebagai Resi (pertapa) Ki Ajar Sukaresi, sedang Prabu Bondan Sarati oleh Ciung Wanara dijatuhi hukuman kurungan (dimasukan dalam kurungan besi).
Pada waktu sebelum Sri Maharaja Adimulya pergi bertapa, dari permaisuri Dewi Pangrenyep telah memiliki putera yang bernama Hariang Banga, melihat kelakuan Ciung Wanara yang langsung menghukum Prabu Bondan Sarati, Hariang Banga langsung menolknya sehingga timbul perselisihan antara dua putera mahkota tersebut.  Perselisihan tersebut berlanjut sampai ketingkat perang tanding dan perang kesaktian yang setelah memakan waktu berhari-hari ternyata tiada yang kalah maupun yang menang, dan ketika perkelahian berlangsung ditepian sebuah sungai ( perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah sekarang ), Sri Maharaja Adimulya atau Ki Ajar Sukaresi selaku Bapak Kandungnya melerai dan menghentikan perkelahian kedua puteranya serta memberi nasehat yang diantaranya bahwa berseteru (bermusuhan) antara saudara adalah hal yang pamali atau terlarang ( sejak itu sungai tersebut diberi nama Sungai Cipamali )
Atas kebijaksanaan Sri Mahara Adimulya dan mengingat agar tidak timbul lagi perkelahian diantara dua puteranya maka sejak itu wilayah Kerajaan Galuh dibagi dua yaitu dari Batas Sungai Cipamali ke sebelah Barat diserahkan kepada Ciung Wanara sedangkan dari Batas Sungai Cipamali ke sebelah Timur diserahkan kepada Hariang Banga.
Akhirnya Sri Maharaja Adimulya mengundurkan diri dari Tahta Kerajaan untuk kembali menjadi seorang pertapa dan langsung Ciung Wanara dinobatkan sebagai Raja Galuh sebagai penggantinya dengan gelar Prabu Manarah yang selanjutnya Ciung Wanara diriwayatkan mendirikan Kerajaan Pakuan Pajajaran yang pusat pemerintahan kerajaannya di Galuh Pakuan Bogor.  Keturunan terakhir yang menjabat tahta kerajaan yaitu Sri Baduga Maharaja yang bergelar pula Sri Baduga Maharaja Ratuhaji di Pakuan Pajajaran atau terkenal pula dengan gelar Sri Sangratu Dewata yang sekarang terkenal dengan gelar Prabu Siliwangi ( 1482 – 1521 ).
Sementara itu pula Hariang Banga  dikisahkan mendirikan Kerajaan Majapahit yang selanjutnya mempunyai putera bernama Brawijaya  dan keturunannya sampai ke akhir masa Kerajaan Majapahit, munculnya Kerajaan Islam Demak dan akhirnya Kerajaan Mataram adalah yang masih tergolong keturunan Hariang Banga putera Ratu Galuh Pusaka.
B. Asal mula Nama Gunungcupu.
Setelah Ciung Wanara dinobatkan selaku Raja Galuh beliau langsung mengutarakan amanat bapaknya tentang barang, azimat dan pusaka kerajaan yang dimasukan dalam cupu serta disembunyikan dengan jalan dikubur disuatu hutan, bahwa hal tersebut supaya tetap dirahasiahkan dalam artian jangan ada yang berani membuka apabila tidak mau ada bencana maupun malapetaka bagi kerajaan maupun seluruh rakyatnya.
Selanjutnya hutan tempat mengubur cupu tersebut (berupa tumpukan batu berlokasi di Dusun Desakaler ± 250 meter arah utara barat dari Mesjid Desa Gunungcupu) sejak itu disebut Gunungcupu yang sekarang dijadikan nama Desa dengan wasiat pusaka Raja Ciung Wanara “Rasiah ulah dibuka”.

Sumber : www.google.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar